Kamis, 03 September 2009

Materi Pembelajaran IPS Kelas 8 Semester 1

Materi  Unsur Fisik Wilayah Indonesia, klik di sini :
http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=216

A.PENGARUH LETAK GEOGRAFIS INDONESIA
TERHADAP KONDISI ALAM DAN PENDUDUK

Pengertian letak geografis adalah letak suatu negara dilihat
dari kenyataan di permukaan bumi. Menurut letak geografisnya
Indonesia terletak di antara dua benua, yakni Asia dan Australia,
dan di antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra
Pasifik.
Letak Indonesia yang diapit dua benua dan berada di antara dua samudra berpengaruh besar terhadap keadaan alam maupun kehidupan penduduk.

1. Pengaruh Letak Geografis terhadap Keadaan Alam

Indonesia merupakan negara kepulauan yang merupakan pertemuan dua samudra besar (Samudra Pasifik dan Samudra Hindia) dan diapit daratan luas (Benua Asia dan Australia). Hal itu berpengaruh terhadap kondisi alam.
a. Wilayah Indonesia beriklim laut, sebab merupakan negara
kepulauan, sehingga banyak memperoleh pengaruh angin laut
yang mendatangkan banyak hujan.
b. Indonesia memiliki iklim musim, yaitu iklim yang dipengaruhi
oleh angin muson yang berembus setiap 6 bulan sekali berganti
arah. Hal ini menyebabkan musim kemarau dan musim hujan
di Indonesia.

2. Pengaruh Letak Geografis terhadap Keadaan
Penduduk

Karena Indonesia terletak pada posisi silang (cross position) antara dua benua dan dua samudra, maka pengaruhnya bagi kehidupan bangsa Indonesia adalah sebagai berikut.
a. Indonesia banyak dipengaruhi oleh kebudayaan asing, yakni
dalam bidang seni, bahasa, peradaban, dan agama.
b. Indonesia terletak di antara negara-negara berkembang,
sehingga memiliki banyak mitra kerja sama.
c. Lalu lintas perdagangan dan pelayaran di Indonesia cukup
ramai, sehingga menunjang perdagangan di Indonesia dan
menambah sumber devisa negara

B. PENGARUH LETAK ASTRONOMI INDONESIA

Letak astronomi adalah letak suatu tempat berdasarkan garis
lintang dan garis bujurnya. Berdasarkan letak astronomisnya, In-
donesia berada di antara 6o LU - 11o LS dan antara 95o BT -
141o BT.
Wilayah Indonesia paling utara adalah Pulau Weh di
Nanggroe Aceh Darussalam yang berada di 6o LU. Wilayah In-
donesia paling selatan adalah Pulau Roti di Nusa Tenggara Timur
yang berada pada 11o LS. Wilayah Indonesia paling barat adalah
di ujung utara Pulau Sumatra yang berada pada 95o BT. Adapun
wilayah Indonesia paling timur di Kota Merauke yang berada pada
141o BT.

1. Garis Lintang
Garis lintang merupakan garis khayal pada peta atau globe
yang sejajar dengan khatulistiwa. Garis khatulistiwa membelah bumi
menjadi dua belahan utara dan belahan selatan. Garis khatulistiwa
atau garis equator atau garis lini adalah garis lintang 0o. Garis lintang
dipergunakan untuk membagi wilayah iklim di bumi yang disebut
iklim matahari.
Berdasarkan letak lintangnya, wilayah Indonesia berada di antara 6o LU - 11o LS. Hal ini menyebabkan Indonesia beriklim tropis dengan ciri-ciri:
a. memiliki curah hujan yang tinggi,
b. memiliki hujan hutan tropis yang luas dan memiliki nilai
ekonomis yang tinggi,
c. menerima penyinaran matahari sepanjang tahun,
d. banyak terjadi penguapan sehingga kelembapan udara cukup
tinggi.

2. Garis Bujur

Garis bujur adalah garis khayal pada peta atau globe yang
menghubungkan kutub utara dan selatan bumi. Bumi dibagi menjadi
180o garis bujur timur (BT) dan 180o garis bujur barat (BB).
Perhitungan garis bujur 0o dimulai dari Kota Greenwich dekat Kota
London. Garis bujur dipergunakan untuk menentukan waktu suatu
daerah.
Letak astronomi Indonesia yang berada di antara 95o BT -

141o BT menjadikan Indonesia memiliki tiga daerah waktu, yaitu:
a. Daerah Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), meliputi seluruh
Sumatra, Jawa, Madura, Kalimantan Barat, Kalimantan
Tengah, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Waktu Indonesia
Barat memiliki selisih waktu 7 jam lebih awal dari GMT
(Greenwich Mean Time).
b. Daerah Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), meliputi Bali,
Nusa Tengara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur , Pulau
Sulawesi, dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Waktu Indonesia
Tengah memiliki selisih waktu 8 jam lebih awal dari GMT.
c. Daerah Waktu Indonesia bagian Timur (WIT), meliputi
Kepulauan Maluku, Papua, dan pulau-pulau kecil sekitarnya.
Waktu Indonesia bagian timur memiliki selisih waktu 9 jam
lebih awal dari GMT

C. HUBUNGAN LETAK GEOGRAFIS DENGAN PERUBAHAN MUSIM DI INDONESIA

Wilayah Indonesia berada di antara 6o LU - 11o LS dan merupakan daerah tropis dengan dua musim yakni musim kemarau dan penghujan yang bergantian setiap enam bulan sekali.Musim kemarau berlangsung antara bulan April sampai Oktober. Adapun musim penghujan berlangsung antara bulan Oktober sampai April. Terjadinya perubahan musim ini disebabkan oleh terjadinya peredaran semu matahari setiap tahun.

1. Peredaran Semu Matahari Tahunan

Peredaran semu matahari adalah gerakan semu matahari dari khatulistiwa menuju garis lintang balik utara 23½o LU, kembali ke khatulistiwa dan bergeser menuju ke garis lintang balik selatan 23 ½o LS dan kembali lagi ke khatulistiwa.
Hal tersebut berpengaruh pada letak tempat terbit dan
terbenamnya matahari yang setiap hari tidaklah sama . Setiap hari
akan terjadi pergeseran dari letak terbit/terbenamnya dibandingkan
dengan letak yang kemarin. Pergeseran ini disebabkan karena
proses perputaran bumi mengelilingi matahari (revolusi), sehingga
dapat diketahui bahwa yang berubah adalah posisi bumi terhadap
matahari.
Akibat dari perputaran bumi yang mengelilingi matahari tersebut, maka mengakibatkan terjadinya pergeseran semu letak terbit/terbenamnya matahari.

2. Terbentuknya Angin Muson

Perubahan letak terbitnya matahari berpengaruh terhadap
intensitas cahaya matahari pada wilayah yang berkaitan langsung
dengan tempat lintasan peredaran semu matahari tersebut. Salah
satu akibat dari peredaran semu tahunan matahari adalah terjadinya
perubahan gerakan angin yang dikenal dengan nama angin muson.
Angin muson adalah angin yang bertiup setiap 6 bulan sekali dan
selalu berganti arah. Di Indonesia terdapat dua angin muson, yaitu:

a. Angin muson barat
Bertiup setiap bulan Oktober sampai Maret, saat
kedudukan semu matahari di belahan bumi selatan. Hal ini
menyebabkan tekanan udara maksimum di Asia dan tekanan
udara minimum di Australia, maka bertiuplah angin dari Asia
ke Australia (tekanan tinggi ke rendah). Karena angin melalui
Samudra Hindia, maka angin tersebut mengandung uap air yang
banyak, sehingga pada bulan Oktober sampai Maret di Indo-
nesia terjadi musim penghujan.

b. Angin muson timur
Bertiup mulai bulan April sampai September, di mana
kedudukan semu matahari di belahan bumi utara. Akibatnya tekanan udara di Asia rendah dan tekanan udara di Australia
tinggi, sehingga angin bertiup dari Australia ke Asia. Angin
tersebut melewati gurun yang luas di Australia, sehingga bersifat
kering. Oleh karena itu Indonesia saat itu mengalami musim
kemarau.

D. PERSEBARAN FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA

Curah hujan yang cukup tinggi di daerah tropis mengakibatkan suburnya berbagai jenis tanaman. Oleh karena itu, daerah tropis dikenal sebagai kawasan hutan belukar yang bukan saja menyimpan berbagai potensi kekayaan alam, melainkan juga berperan sebagai paru-paru dunia.
Keberadaan hutan tropis yang subur merupakan surga bagi aneka satwa, mulai dari berbagai jenis hewan melata, mamalia, aneka ragam serangga sampai pada jenis burung.
Faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna:
1. faktor bentang alam atau relief tanah,
2. faktor manusia,
3. faktor iklim, mencakup curah hujan, temperatur udara, angin,
dan kelembapan udara,
4. faktor tanah.

1. Persebaran Flora di Indonesia

a. Jenis hutan berdasarkan iklim

1) Hutan hujan tropis, dengan ciri-ciri:
a) pohonnya berdaun lebar,
b) daunnya menghijau sepanjang tahun,
c) terdapat tumbuhan epifit, lumut, palem, dan pohon
panjat sejenis rotan.
2) Hutan musim, terdapat di daerah tropis yang memiliki
musim hujan dan kemarau. Ciri-ciri hutan musim adalah:
a) pohonya jarang,
b) ketinggian pohon antara 12 - 35 meter,
c) pada musim kemarau daunnya meranggas dan musim kemarau
3) Hutan sabana atau savana, yaitu padang rumput yang
diselingi pepohonan perdu. Hutan savana atau sabana
banyak terdapat di daerah tropis yang curah hujannya relatif
kurang. Di wilayah Indonesia, padang sabana banyak
dijumpai di daerah Nusa Tenggara.
4) Hutan bakau atau mangrove, merupakan hutan khas di
daerah pantai tropik. Keberadaan hutan bakau sangat
membantu mengamankan pantai dari bahaya abrasi, yakni
pengikisan lapisan tanah oleh gelombang laut. Kerusakan
pantai disebabkan karena menipisnya hutan bakau yang
banyak ditebang manusia.

2. Persebaran Fauna di Indonesia
a. Kelompok fauna Asiatis (kelompok barat), adalah hewan
yang berada di wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali.
Wilayah itu dulu dikenal sebagai Paparan Sunda, yang
merupakan bagian dari Benua Asia. Adapun jenis-jenis
hewannya antara lain badak, gajah, rusa, tapir, banteng, kerbau,
kera, harimau, babi hutan, dan sebagainya.
b. Kelompok fauna Australis Asiatis (kelompok tengah),
merupakan campuran fauna Asia dan Austalia, meliputi jenis
hewan yang berada di wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, dan
Maluku. Wilayah kelompok tengah dan timur dipisahkan oleh
Garis Weber. Contoh jenis fauna ini antara lain anoa, babi
rusa, komodo, burung maleo, tarsius, dan lain-lain
c. Kelompok fauna Australis (kelompok timur), merupakan
kelompok hewan yang berada di Paparan Sahul, meliputi
wilayah Papua dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Contoh fauna
di wilayah ini antara lain kanguru, walabi, koala, burung cende-
rawasih, kakatua, kasuari, dan jenis burung berwarna lainnya.

E. PERSEBARAN JENIS TANAH DAN PEMANFAATANNYA DI INDONESIA

Jenis-jenis tanah di Indonesia antara lain:

a. Tanah gambut adalah tanah yang berasal dari bahan
organik yang selalu tergenang air (rawa) dan kekurangan
unsur hara, sirkulasi udara tidak lancar, proses penghan-
curan tidak sempurna, kurang baik untuk pertanian. Banyak
terdapat di Kalimantan, Sumatra Timur, dan Papua.
b. Tanah mergel adalah tanah campuran dari batuan kapur,
pasir, dan tanah liat yang dikarenakan hujan yang tidak
merata. Banyak terdapat di lereng pegunungan dan dataran
rendah seperti di Solo, Madiun, Kediri, dan Nusa Tenggara.
c. Tanah kapur (renzina) adalah tanah yang terbentuk dari
bahan induk kapur yang mengalami laterisasi lemah. Banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sumatra.
d. Tanah endapan atau tanah aluvial adalah tanah yang
terbentuk karena pengendapan batuan induk dan telah
mengalami proses pelarutan air. Jenis tanah ini merupakan
tanah subur dan banyak terdapat di Jawa bagian utara,
Sumatra bagian timur, Kalimantan bagian barat dan selatan.
e. Tanah terrarosa adalah tanah hasil pelapukan batuan
kapur. Jenis tanah ini banyak terdapat di daerah dolina dan
merupakan daerah pertanian yang subur. Daerah
persebarannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa
Tenggara, Maluku, dan Sumatra.
f. Tanah humus adalah tanah hasil pelapukan tumbuhan
(bahan organik), berwarna hitam, sangat subur, cocok untuk pertanian. Banyak terdapat di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua.
g. Tanah vulkanis adalah tanah hasil pelapukan bahan padat
dan bahan cair yang dikeluarkan gunung berapi. Jenis tanah
ini sangat subur dan cocok untuk pertanian. Jenis tanah ini
banyak terdapat di daerah Jawa, Sumatra, Bali, Lombok,
Halmahera, dan Sulawesi.
h. Tanah padzol adalah tanah yang terjadi karena temperatur
dan curah hujan yang tinggi, sifatnya mudah basah, dan
subur jika terkena air. Jenis tanah ini berwarna kuning
keabu-abuan dan cocok untuk perkebunan. Banyak
terdapat di pegunungan tinggi.
i. Tanah laterit adalah tanah yang terbentuk karena
temperatur dan curah hujan yang tinggi. Namun jenis tanah
ini kurang subur dan banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa
Barat, dan Kalimantan Barat.
j. Tanah pasir adalah tanah hasil pelapukan batuan beku
dan sedimen dan tidak berstruktur. Jenis tanah ini kurang
baik untuk pertanian karena sedikit mengandung bahan
organik. Banyak terdapat di pantai barat Sumatra Barat,
Jawa Timur, dan Sulawesi.

F. KONDISI PENDUDUK INDONESIA

a. Kelompok ras Papua Melanezoid, terdapat di Papua/
Irian, Pulau Aru, Pulau Kai.
b. Kelompok ras Negroid, antara lain orang Semang di
semenanjung Malaka, orang Mikopsi di Kepulauan
Andaman.
c. Kelompok ras Weddoid, antara lain orang Sakai di Siak
Riau, orang Kubu di Sumatra Selatan dan Jambi, orang
Tomuna di Pulau Muna, orang Enggano di Pulau Enggano,
dan orang Mentawai di Kepulauan Mentawai.
d. Kelompok ras Melayu Mongoloid, yang dibedakan
menjadi 2(dua) golongan.
1) Ras Proto Melayu (Melayu Tua) antara lain Suku
Batak, Suku Toraja, Suku Dayak.
2) Ras Deutro Melayu (Melayu Muda) antara lain Suku
Bugis, Madura, Jawa, Bali.


PERMASALAHAN KEPENDUDUKAN 
DAN
PENANGGULANGANNYA

1. Pengertian Penduduk Indonesia
Penduduk Indonesia adalah mereka yang tinggal di Indone-
sia pada saat dilakukan sensus dalam kurun waktu minimal 6 bulan.
2. Sumber Data Penduduk
Untuk mengetahui bagaimanakah keadaan penduduk
berkaitan dengan kuantitas penduduk di suatu negara diperlukan data yang lengkap dengan melakukan:
a. Sensus penduduk (cacah jiwa), yaitu pencatatan penduduk
di suatu daerah/negara pada kurun waktu tertentu. Sensus pen-
duduk biasanya dilakukan tiap 10 tahun sekali (setiap dekade).
b. Survei penduduk, yaitu pencatatan penduduk di daerah yang
terbatas dan mengenai hal tertentu.
c. Registrasi penduduk, yaitu pencatatan data penduduk yang
dilakukan secara terus-menerus di kelurahan. Misal: pencatatan
peristiwa kelahiran, kematian, dan kejadian penting yang
mengubah status sipil seseorang sejak lahir sampai mati
3. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu pertumbuhan penduduk alami, pertumbuhan penduduk migrasi, dan pertumbuhan penduduk total.
a. Pertumbuhan penduduk alami (Natural Population Increase), adalah pertumbuhan penduduk yang diperoleh dari
selisih jumlah kelahiran dengan jumlah kematian.
Hal ini dapat dihitung dengan rumus:

T = L - M

Keterangan :
T = jumlah pertumbuhan penduduk per tahun

L = jumlah kelahiran per tahun

M = jumlah kematian per tahun

b. Pertumbuhan penduduk migrasi adalah pertumbuhan
penduduk yang diperoleh dari selisih jumlah migrasi masuk
(imigrasi) dan jumlah migrasi keluar (emigrasi).
Hal ini dapat dihitung dengan rumus:

T = I - E

Keterangan
T = jumlah pertumbuhan penduduk per tahun I = jumlah migrasi masuk per tahun
E = jumlah migrasi keluar per tahun

c. Pertumbuhan penduduk total (Total Population Growth)
adalah pertumbuhan penduduk yang dihitung dari selisih jumlah
kelahiran dengan jumlah kematian ditambah dengan selisih
jumlah imigrasi dengan jumlah emigrasi.
Hal ini dapat dihitung dengan rumus:

T = (L - M) + ( I - E)

Keterangan:
T = Pertumbuhan penduduk per tahun
L = Jumlah kelahiran per tahun
M = Jumlah kematian per tahun
I = Jumlah imigran (penduduk yang masuk ke suatu
negara/wilayah untuk menetap) per tahun
E = Jumlah emigran (penduduk yang meninggalkan/
pindah ke wilayah/negara lain) per tahun

 Dinamika Penduduk :


http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=188

3 komentar: